WartajatengBlora_ Nilai ekspor Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mencatatkan lonjakan signifikan di awal 2026. Pada triwulan I 2026, ekspor komoditas unggulan Blora mencapai 1,4 juta dolar AS atau sekitar Rp23,81 miliar.
Angka tersebut naik tajam 75,8 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 795.809 dolar AS atau sekitar Rp13,06 miliar. Perhitungan menggunakan kurs Rp17.028 per dolar AS per 7 April 2026.
“Peningkatan ekspor tahun ini pada triwulan pertama berkisar 75,8 persen,” kata Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) Kabupaten Blora Kiswoyo di Blora, Selasa.
Tiga Komoditas Unggulan Jadi Penopang
Kiswoyo menyebut kenaikan tersebut ditopang tiga komoditas utama: mebel berbahan kayu jati, briket arang dari batok kelapa, dan produk olahan daun kelor.
Produk olahan daun kelor disebut menjadi bintang baru. “Produk olahan daun kelor sedang naik daun, terutama di pasar Malaysia. Banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk herbal, suplemen kesehatan, hingga kosmetik,” ujarnya.
Komoditas mebel kayu jati masih menjadi tulang punggung ekspor Blora. Sementara briket arang dari batok kelapa dimanfaatkan untuk barbeque, penghangat ruangan, hingga bahan rokok.
Tembus Pasar 3 Benua
Produk asal Blora kini sudah menembus pasar Asia, Eropa, Timur Tengah, Australia, hingga Amerika Serikat.
Negara tujuan ekspor meliputi Jepang, Malaysia, India, Turki, Bulgaria, Amerika Serikat, Lebanon, Kuwait, Qatar, Prancis, Spanyol, Italia, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan sejumlah negara Eropa serta Timur Tengah lainnya.
Khusus briket arang dipasarkan ke Lebanon, Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Dubai, dan India. Sedangkan furnitur kayu jati telah masuk ke Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, Italia, Arab Saudi, serta Timur Tengah.
“Perluasan pasar tersebut menunjukkan produk-produk asal Blora mampu memenuhi standar internasional dan memiliki daya saing yang semakin kuat di pasar global,” kata Kiswoyo.
Cetak Eksportir Baru Lewat ECS
Selain kenaikan nilai ekspor, Blora juga mendapat kuota pendampingan bagi 25 pelaku usaha melalui Export Center Surabaya (ECS). Program ini ditargetkan mencetak eksportir baru dan memperluas pasar produk unggulan daerah.
“Mayoritas eksportir berasal dari industri pengolahan kayu. Sementara olahan daun kelor mulai menjadi komoditas unggulan baru karena permintaannya terus meningkat di pasar global,” jelasnya.
Kiswoyo berharap peningkatan ekspor ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperluas pasar produk lokal, dan membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat Blora.
